Sabtu, 21 April 2018

Keutamaan Membaca Ayat dan Surat Tertentu Pada Waktu Tertentu

Keutamaan Membaca Ayat dan Surat Tertentu Pada Waktu Tertentu Faizin, NU Online | Selasa, 27 Maret 2018 23:00 Eksistensi Al Qur'an di tengah-tengah umat Islam telah menginspirasi banyak ulama di berbagai lintasan zaman untuk melakukan kajian terhadap Al Qur'an dari berbagai aspek dengan menggunakan beragam metode. Kemukjizatan Al Qur'an pun tidak hanya diakui oleh umat Islam saja, akan tetapi juga dari kalangan non-Muslim seperti halnya para orientalis. Umat islam juga telah sepakat bahwa setiap bagian dari Al Qur'an memiliki keistimewaan dan keutamaan tersendiri. Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari terdapat beberapa surat atau ayat yang diutamakan untuk dibaca pada waktu-waktu tertentu. Fenomena seperti ini ternyata telah diuraikan oleh seorang ulama yang hidup di abad pertengahan yaitu Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya Ibnu Syarafudiin al Nawawi al Dimasyqi atau yang masyhur dengan sebutan Imam Nawawi dalam kitabnya Al Tibyan fi Adabi Hamalat Al Qur'an. Di dalam kitab tersebut terdapat satu bab yang berjudul Al-ayat wa al-suwar al-mustahabbah fi auqatin makhsushatin, sebuah bab yang menjelaskan tentang surat-surat atau ayat-ayat yang dianjurkan untuk membacanya pada waktu-waktu tertentu. Imam Nawawi mengawali penjelasannya dengan mengatakan bahwa sebenarnya tema fadhoil al-suwar merupakan tema yang pembahasannya cukup luas. Oleh karena itu, dalam bukunya tersebut, beliau hanya menjelaskan sebagian besar saja dan menggunakan ungkapan-ungkapan yang diringkas, karena sebagian keutamaan tersebut telah diketahui oleh orang-orang awam sehingga menjadi sebuah amalan rutinitas. Seperti halnya keutamaan membaca Al Qur'an di bulan Ramadhan, terutama dalam sepuluh hari terakhir dan di malam-malam yang  ganjil atau pada saat sepuluh hari pertama  di bulan Dzulhijjah. Tak lupa, Imam An Nawawi juga menjelaskan keutamaan membaca beberapa surat pilihan, di antaranya adalah Surat Yasin, Surat Al-Waqi’ah, Surat Al-Mulk, dan Surat Al-Kahfi. Imam An Nawawi kemudian menjelaskan secara rinci mengenai surat-surat yang dianjurkan untuk dibaca di setiap sholat. Diantaranya adalah pertama, ketika melaksanakan shalat Subuh di hari Jumat disunahkan membaca surat alif lam mim tanzil (surat As Sajadah) pada rakaat yang pertama dan pada rakaat yang kedua membaca surat Al Insaan. Kedua surat tersebut hendaklah dibaca secara keseluruhan dari awal hingga akhir surat. Tidak dianjurkan membaca sebagian ayatnya, dengan mengambil bagian awal, tengah ataupun akhirnya saja, seperti halnya dilakukan oleh kebanyakan imam di beberapa masjid. Kedua, disunnahkan juga saat sholat Jum’at membaca surat Al Jumu’ah pada rakaat yang pertama dan surat Al Munafiquun pada rakaat kedua. Selain itu, disunnahkan juga membaca surat Al A’laa pada rakaat pertama dan membaca Surat  Al Ghaasyiyah pada rakaat kedua. Keduanya adalah riwayat yang sahih dari Rasulullah SAW. Ketiga, dianjurkan ketika melaksanakan Shalat ‘Ied membaca Surat Qaaf pada rakaat pertama dan membaca surat Iqtarabatis Saa’atu (Surat Al Qamar) pada rakaat kedua. Selain itu, dianjurkan juga membaca surat Al A’laa dan Al Ghaasyiyah. Kedua riwayat itu sahih dari Rasulullah SAW. Keempat, pada saat melakukan shalat sunnah fajar (Qabliyah Subuh) dianjurkan membaca Surat Al Kafirun pada rakaat yang pertama dan Surat Al Ikhlas pada rakaat kedua. Boleh juga pada rakaat pertama membaca surat Al Baqarah ayat 136 dan pada rakaat kedua membaca surat  Ali Imran ayat 64. Keduanya sahih dari perbuatan Rasulullah SAW. Kelima, dalam rakaat pertama, sholat sunah Maghrib membaca Surat Al Kafirun dan rakaat kedua Surat Al Ikhlas. Dan keduanya juga dibaca dalam dua rakaat shalat sunnah thawaf dan dua rakaat shalat sunnah istikharah. Keenam, dalam sholat witir tiga rakaat, rakaat pertama membaca surat Al-A’la dan rakaat kedua membaca surat Al Kafirun serta rakaat ketiga membaca Surat Al Ikhlas dan dan Surat Al Mu’awwidzatain. Kemudian Imam An Nawawi menjelaskan tentang surat-surat yang disunnahkan untuk dibaca di hari-hari atau di waktu-waktu tertentu. Pertama, disunahkan membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudri dan beberapa sahabat lainnya. Imam Asy Syafi’i berkata dalam kitab Al Umm, disunahkan juga membacanya pada malam Jumat. Dalil ini diriwayatkan oleh Abu Muhammad Ad Daarimi dengan isnadnya dari Abu Said Al Khudri, ia berkata: “Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada malam Jumat, dia diterangi cahaya antara rumahnya dan Al Baitul Atiq (Ka’bah)”.  Ad Daarimi juga menyebut suatu hadits  yang menganjurkan membaca Surat Huud pada hari Jumat. Diriwayatkan dari Makhul seorang tabi’in yang mulia, bahwa sunah membaca Surat Ali Imran pada hari Jumaat. ,Kedua, disunahkan memperbanyak membaca Ayat Kursi di semua tempat dan membacanya setiap malam ketika hendak tidur dan membaca Al Mu’awwidzatain (Surat Al-Falaq dan An-Nas) setiap selesai sholat.  Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir, ia berkata  “Rasulullah saw menyuruhku membaca Al Mu’awwidzatain setiap selesai sembahyang”. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i Tirmidzi berkata hadits hasan sahih. Ketiga, disunahkan ketika akan tidur membaca ayat Kursi, surat Al Ikhlas,surat Al Mu’awwidzatain dan akhir surat Al Baqarah. Ini amalan yang perlu diperhatikan sebagaimana diriwayatkan berkenaan dengannya menerusi hadits-hadits sahih dari Abu Mas’ud Al Badri bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah dalam suatu alam maka kedua ayat itu mencakupinya (melindungi)nya”. Beberapa ulama mengatakan, maksudnya mencukupinya dari sembahyang malam. Para ulama lainnya  berkata: yaitu melindunginya dari gangguan pada malam tersebut. Adapun hadits yang meriwayatkan hal tersebut sepert diriwayatkan dari Aisyah:  “Bahwa Nabi saw setiap malam membaca Qul huwallahtu  Ahad dan Al-Mu’awwidzatain”. Diriwayatkan dari Ali, ia berkata: “Saya belum pernah melihat seorang berakal yang masuk Islam tidur sebelum membaca ayat Kursi”. Di riwayatkan juga dari Ali, katanya: “Saya belum pernah melihat orang yang berakal tidur sebelum membaca tiga ayat terakhir dari surat Al Baqarah”. Isnadnya sahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir, ia berkata: Rasulullah SAW berkata kepadaku: “Janganlah engkau biarkan malam berlalu, kecuali engkau membaca di dalamnya Qul huwallaahu Ahad dan Al-Mu’awwidzatain. Maka tidaklah tiba suatu malam kepada kita kecuali membacanya”. Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha’i, ia berkata: “Mereka menganjurkan agar membaca surat-surat ini setiap malam tiga kali, yaitu Qul Huwallaahu Ahad dan Al-Mu’awwidzatain". Isnadnya sahih berdasarkan syarat Muslim. Diriwayatkan dari Ibrahim pula, mereka mengajari orang-orang apabila hendak tidur membaca Al-Mu’awwidzatain. Diriwayatkan dari Aisyah: “Nabi saw tidak tidur hingga membaca surat Az-Zumar dan Bani Israil”. Riwayat Tirmdizi dan dia berkata hadits ini hasan. Keempat, Jika bangun setiap malam, disunahkan membaca akhir Surat Al Imran dimulai dari ayat 190 berdasarkan riwayat yang terdapat di dalam Shahihain. Lebih lanjut Imam An-Nawawi juga memberikan uraian tentang ayat-ayat yang dibacakan untuk orang sakit diantaranya pertama, disunahkan membaca Al Fatihah di samping orang sakit berdasarkan sabda Nabi SAW dalam hadits sahih berkenaan dengan perkara tersebut: “Dari mana engkau tahu bahwa Al Fatihah adalah ruqtah (sejenis obat dan mantera)?”. Kedua, disunahkan membaca surat Al Iklas, Al Falaq, dan An Nas untuk orang sakit dengan meniup pada kedua telapak tangan. Hal ini diriwayatkan dalam Shahihain dari perbuatan Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan dari Thalhah bin Mutharif, katanya: “Jika Al Qur'an dibaca di dekat orang sakit, dia merasa lebih  ringan. Pada suatu hari aku memasuki khemah seseorang yang sedang sakit”. Aku berkata: “Aku melihatmu hari ini dalam keadaan baik”. Dia berkata: “Telah dibacakan Al Qur'an di dekatku”. Ketiga, diriwayatkan oleh Al-Khatib Abu Bakar Al-Baghdadi dengan isnadnya, bahwa Ar Ramadi ketika menderita sakit, katanya: "Bacakan hadits kepadaku. Ini baru hadits, apalagi Al Qur'an". Keempat, tentang apa yang dibacakan di dekat mayat. Para ulama dan sahabat berkata, sunah membaca surat Yasin di dekatnya berdasarkan hadits Ma’qil bin Yasar bahwa Nabi SAW bersabda: “Bacakanlah surat Yasin untuk mayatmu”. Hadits riwayat Abu dawud dan Nasa’i dalam Amalul Yaum wal Lailah dan Ibnu Majah dengan isnad dha’if. (Muhammad Nur Hayid)

KH Hasyim Asy'ari tentang Saling Bermusuhan atas Nama Agama

KH Hasyim Asy’ari tentang Saling Bermusuhan atas Nama Agama Khoiron, NU Online | Jumat, 09 Maret 2018 21:00 Semakin hari, sebagian masyarakat Indonesia hanyut terbawa arus perbedaan pendapat yang semakin meruncing. Padahal, jika mau jernih serta proporsional memandangnya, kita tidak akan terseret ke dalam kubangan jurang permusuhan antarsesama anak bangsa.  Perbedaan pendapat cabang keagamaan merupakan sebuah keniscayaan. Para sahabat yang masuk kurun umat terbaik juga mengalami perbedaan pandangan. Secara sosial, mereka tidak ada masalah. Mereka tak lantas saling mencaci atau menjatuhkan. Imam Abu Hanifah dengan Imam Malik berbeda pendapat pada kisaran 14 ribu masalah. Imam Ahmad bin Hanbal berbeda pendapat dengan gurunya Imam Syafi’i terjadi pada banyak masalah. Tidak ada yang saling nyinyir dan menghujat. Masing-masing mengasihi dan menghormati.  Bahkan, dalam satu riwayat dikatakan, Imam Syafi’i ketika menziarahi Imam Abu Hanifah, menginap selama 7 hari, selalu membaca Al-Qur’an. Setiap kali khatam, pahalanya dihadiahkan kepada Imam Abu Hanifah. Selain itu, Imam Syafi’i juga tidak berkenan melaksanakan qunut subuh selama di qubah (dekat makam) Abu Hanifah tersebut.   Ketika ditanya salah satu muridnya, mengapa demikian? Imam Syafi’i menjawab “Sesungguhnya Imam Abu Hanifah tidak berpendapat bahwa qunut subuh itu sunah. Aku tinggkalkan demikian karena aku menjaga adab kepada Beliau” (Baca: Belajar Toleransi dari Imam Syafi’i saat Ziarahi Makam Abu Hanifah) Mengumumkan kalimat “saya tidak cocok dengan orang ini, saya tidak sepakat dengan orang itu” lalu menjadikan ajang permusuhan, bukanlah sikap warga NU yang dicontohkan KH Hasyim Asy’ari.  Menelisik sedikit lebih mendalam tentang hajr yakni memusuhi sesama muslim dengan cara tidak menyapa, dalam kitab At Tibyan, fin nahyi an muqatha’atil arham wal aqarib wal ikhwan, KH Hasyim Asy’ari--mengutip pendapat Ibnu Hajar--menyatakan bahwa memusuhi atau tidak mau menyapa sesama Muslim lebih dari tiga hari merupakan dosa besar. Karena terdapat unsur memutus tali persaudaraan, menyakiti hati sesama dan menimbulkan kerusakan.  Memusuhi sesama Muslim hukumnya haram kecuali untuk kemaslahatan orang yang memusuhi serta kebaikan bagi orang yang dimusuhi. Jika tidak dalam rangka tersebut, hukumnya tetap haram.  Orang-orang yang terkena propaganda hajr ini terkadang menggunakan senjata tersebut untuk memusuhi siapa saja dengan misi yang tidak tepat.  KH Hasyim Asy’ari mengatakan, konteks zaman now, orang yang memusuhi temannya bukanlah untuk alasan kebaikan agama maupun kemaslahatan dunia. Tapi justru menimbulkan kerusakan antara mereka berdua yang berdampak dosa besar.    قلت (اي المؤلف العلامة الشيخ محمد هاشم اشعرى عفا الله عنه وعن والديه وعن مشايخه وجميع المسلمين): وقد رأيت بعيني ان الهجر الواقع بيننا فى هذا الزمان لا يعود الى صلاح دين الهاجر ولا المهجور ولا الى دنياهما، بل يعود الى فسادهما كما لا يخفى على المتأمل المنصف، فهو من الكبائر لما فيه من فساد الدين والدنيا والتحاسد والتباغض. والله اعلم.  Artinya : Saya katakan (maksud yang mengatakan di sini adalah pengarang kitab, Muhammad Hasyim Asy’ari, semoga Allah mengampuninya beserta kedua orang tuanya, guru-gurunya dan orang Islam semuanya) “Saya amati dengan dua mata kepala saya, sesungguhnya permusuhan, tidak menyapa antar sesama yang terjadi di tengah-tengah kita sekarang ini, bukan kembali untuk kebaikan agama orang yang memusuhi dan dimusuhi. Juga tidak dalam rangka untuk kemaslahatan kepentingan duniawi meraka. Namun permusuhan tersebut malah menimbulkan kerusakan yang kembali pada mereka berdua sebagaimana yang tidak samar bagi orang yang merenung dan insaf. Itu merupakan tindakan dosa besar sebab mengakibatkan kerusakan agama, dunia dan menjadikan saling dengki serta permusuhan. Wallahu ‘alam. (Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, at-Tibyan fin Nahyi an Muqatha’atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan, Jombang, al-Maktabah al-Masruriyah, halaman 11-12) Lalu, dalam bentuk apa orang yang hanya mendiamkan, tidak menyapa  saja kemudian mendapatkan dosa? Menurut KH Hasyim Asy’ari mengutip perkataan Ibnu Hajar dalam kitab Az Zawajir, yaitu semua kebaikan-kebaikan yang sudah rutin dijalankan baik berupa materi, surat-menyurat, saling kunjung dan lain sebagainya kemudian putus secara tiba-tiba tanpa ada alasan syar’iy, itulah tindakan dosa besar. (Ahmad Mundzir)

Kamis, 26 Mei 2016

Desir Hati: JANGAN GALAU, ALLAH BERSAMA KITA

Desir Hati: JANGAN GALAU, ALLAH BERSAMA KITA: Saat hati dilanda kegelisahan,  Allah-lah sebaik-baik tempat mengadu Saat diri ditimpa kesulitan, Allah-lah sebaik-baik tempat meminta pe...

Senin, 12 Oktober 2015

TINTA AMANAH UNTUKMU

Biarkan cairan tintahku melukis potret wajah desaku, dengan rasa ingin tahu. apakah selama ini kepercayaan yang anda pegang teguh-teguh sudah menghasilkan karya atau sebaliknya bukan? tentu harapan segenap warga ada karya nyata darimu. Ingat! Amanah itu yang akan kamu pertanggung-jawaban kelak nanti di akhirat. sebagai yang di beri amanah oleh warga, setidaknya anda sudah punya program-program unggulan tentang perkembangan untuk kampung/desanya. jangan cuman diam, duduk manis di singgasana kekuasaan Level bawah di atas Rt/Rw. coba dong tunjukan pada warganya dengan bukti yang memuaskan, kalau tidak sanggup membuat perubahan, saya kira mendingan mundur sekarang atau mau di jemput paksa oleh malaikat izroil, mau? Nah, maka dari itu sadarlah anda, bebenahlah untuk kemaslahatan umat bukan keluarga diri. tengoklah Jembatan yang mau ambruk, bagaimana caranya biar tidak membahayakan para pengguna jalan, toh! mereka juga warga anda yang setiap harinya hilir mudik silih berganti melintasi jembatan tersebut. ingat! ini sudah bukan zamannya lagi gagah-gagahan karena kuatnya Ekonomi kalian. tidak, ini sudah masuk pada era keterbukaan, siapa yang benar atau tidak benar maka akan tahu sangsinya dari masyarakat terkait. Juga Media sosial adalah peranan penting untuk memberikan opini publik manakala anda berlaku baik/tidak di sinilah letaknya. sekali lagi, tolong ini Amanah jangan kamu remehkan dan berbuatlah demi kemaslahatan warganya.

Sabtu, 10 Oktober 2015

KEUTAMAAN MEMBACA SHALAWAT

Banyak-banyaklah kalian bersholawat untukku pada hari jum'at dan pada malam harinya. Barang siapa yang mengerjakan hal tersebut niscaya aku akan menjadi saksi dan pemberi syafa'at baginya di hari kiamat.
(Riwayat Baihaqi melalui Anas r.a).

Syarah/penjelasan :
Syahidan menjadi saksi baginya bahwa ia mebaca shalawat untuk Nabi Saw. Sehubungan dengan membaca shalawat untuk Nabi Saw, kemudian Allah Swt berfirman ;
"Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya."  (Qs Al-Ahzab 33:56).

Bilamana Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Saw. Maka terlebih lagi kita sebagai umatnya.
Syafii'an memberi syafa'at (pertolongan) kepadanya, kelak di hari kiamat sehingga selamatlah ia dan di masukkan ke dalam surga berkat syafaat Nabi Muhammad Saw.
Hadist ini menerangkan tentang keutamaan membaca shalawat untuk Nabi Saw, terlebih lagi bila dilakukan pada siang hari atau malam jum'at maka pahalanya berlipat ganda.
Barangsiapa yang membaca sholawat untuk Nabi di hari Jumat dan malam harinya, niscaya kelak di hari kiamat akan mendapatkan syafa'atnya, dan bacaan shalawatnya itu di saksikan oleh Nabi Muhammad Saw.

Sabtu, 24 Januari 2015

WIRID DZIKIR SETELAH SHOLAT

Sedikit berbagi Amalan Wirid, Dzikir setelah Sholat....

بسم الله الر حمن الر حيم

Di dalam shahih muslim di riwayatkan beberapa hadist yg berisi tentang dzikir setelah shalat fardhu. Dzikir atau bacaan yang biasa dibaca Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam ialah:

استغفرالله العظيم الذ لااله الاهو الحي القيوم واتوب اليه

Astaghfirullahal'adzhim alladzii la ilaha illaahuwal 'hayyul qoyyuwm waatuw bu ilaih

La ilaha illallahu wa'hdahu lasyarikalah lahulmulku walahul'hamdu yu'hyii wahyumiitu wahuwa 'alakulli syai'inqodiir.

Allahumma la ma ni'alima a'thait wala mu'thiy lima mana'ta wala yanfa'udzal jaddi minkal jadd

Allahumma ajirna minannar

Allahumma antassalam wa minkassalam wa ilaika ya'uwdussalam fa'hayyina rabbana bissalam wa adkhilnal jannata darassalam tabarokta rabbana wa ta'alaita yadzaljalali wal ikhram.

A'uudzu billahi minasysyaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Baca fatihah
Ayat kursiy
Alikhlas |
Al falaq |
Annas |
33×……………………………………………………………………………………………

Ilahana rabbana antamaulana subhanallah
•Subhanallah | 33×
  Subhanallahi wabihandihi da'iman abadan.....
•Alhamdulillah | 33×
   Alhamdulillahi' ala kulli'halinn wa fi kulli'halin wa              bini'mati yakarim....
• Allahu Akbar | 33×
   Allahu akbar kabiiran wal hamdulillahi katsiran wa subhanallahi  bukratan wa ashilan lailaha illallahu wahdahulasyarikalahu lahulmulku walahulhamdu yu'hyi wayumiitu wahuwa 'ala kulli syai'in qoddir. Wa la hawla wala quwata illa billahil' adzhiim.

Astaghifirullahal' adzhim innallaha ghafururahiim

Afdhaludz-dzikri fa'lam annahu....
La ilaha illallah | 33×/100×

Lailaha illallahu muhammadurrasulullah 'alaihi wassalam,  kalimatu'haqqon' alaiha na'hya w'alaiha namuutu wa biha nab'atsu insya' allahu minal aminiin.

Doa....................................................................................

Wutuh Eddy Santoso